SENJA DI PULAU MAKIAN

Topik Terbaru354 Dilihat

Oleh: Widya Ishak

Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate

Waktu itu, Torang ada dudu di meja makan, torang dudu sambil dengar nasihat dari bibi-bibi deng om-om dorang. Nasihat yang sering dorang ulang-ulang kali bilang.

Nasihat yang sampe sekarang ini torang orang Makeang pu moto (pegangan).Dorang pu nasehat itu dorang bilang torang ini biar ta ambor kasana kamari, tapi jangan lupa untuk baku lia.

Torang musti baku leleyan deng baku palihara yang dalam bahasa Makian torang bilang mhonas maka leleyan , mot maka palihara

Torang orang Makian tara bole untuk saling baku biking hati sake
biar torang tara satu rahim , tapi torang satu dara basudara orang Makian

Torang Makian harus buktikan biar torang baku laeng papa deng mama
Tapi torang kan satu yakni Kie Besi
Torang kie besi, Torang Karas tapi Tara kasar.

Soloi dan Parang adalah guru
Pagi nan cerah memerah
dan panas yang ganas menyerap air-air yang ada di laut, di danau, di sungai dan sumur.

Sementara itu Ibu dengan soloi dibelakangnya dan Ayah dengan parang dan korek kelapanya menyusuri jalan penuh dengan kerikil tapi semangat Ibu dan Ayah tak sedikit pun terkikis

Surya semakin meninggi air laut mulai berarus sementara danau amatlah tenang dan air sungai tetaplah mengalir dengan syairnya.

Parang Ayah adalah pena
dan Soloi Ibu adalah buku yang membuat kita kukuh kita belajar dari soloi dan parang yang Sejak dulu adalah guru kehidupan.

Pala, cengkeh, dan kelapa adalah pusaka yang sakral dan rumah tua adalah kenangan dan juga tempat berlindung dan berpulang, dan loga-loga adalah saksi bisu perjuangan.

Keringat Ayah adalah semangat dan senyum Ibu adalah bukti cinta yang tak bertinta.(*)

Komentar