Maluterkini.id — Kepala Desa Talimau, Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Khatab Sanaky Diduga monopoli dalam pembentukan struktur Koperasi Desa Merah Putih.
Pasalnya, pembentukan struktur Koperasi Desa Merah Putih yang diharapkan dapat melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat Desa setempat,
namun tidak dengan Desa Talimau, Kades Khatab Sanaky mengangkat Keluarganya Sebagai Ketua dan Pengawas.
Selain Struktur Koperasi Merah Putih, kaur Desa dan BPD yang merupakan orang terdekat Kades. Hal itu disampaikan salah seorang warga Talimau tak mau namanya dipublis kepada wartawan, Selasa 24 Juni 2025.
Warga itu mengatakan, Musyawarah pembentukan Koperasi Desa Merah Putih dilakukan secara diam-diam, hanya melibatkan keluarga dekat dan Kaur Desa, serta anggota BPD yang tak lain orang dekatnya.
“Seharusnya, Musyawarah Desa pembentukan Koperasi dilakukan secara umum, libatkan semua masyarakat untuk partisipasi aktif memilih Ketua Koperasi Desa Merah Putih, agar mencegah penyalahgunaan wewenang dan potensi KKN. bukan Musdes tersembunyi, lalu sahkan keluarga dekat sebagai Ketua Kopdes,” katanya.
Parahnya lagi kata dia, aset Desa berupa Disel 7 Kilo, seharusnya dikelolah secara baik dan efektif untuk menunjang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, namun dijual oleh Kades Khatab Sanaky.
Aset Desa berupa Diesel 7 kilo tersebut malahan dijual oleh Kades Khatab Sanaky Kepada warga Desa Gunange, senilai Rp 8.000 000 untuk penuhi kebutuhan pribadinya.
Terkait hal itu, Kepala Desa Talimau Khatab Sanaky saat ditemui Media ini mengakui, iya benar Ketua dan Pengawas Kopdes Merah Putih tak lain keluarga dekat saya.
Ketua Kopdes itu merupakan kaka sepupu saya, dan itu diusulkan melalui Musdes, karena sangat susah cari masyarakat yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) mempuni untuk kelola Kopdes Talimau.
Khatab Sanaky menambahkan, soal aset Desa berupa Disel 7 kilo telah di jual kepada warga Gunange, berhubungan sudah ada PLN.
“Diesel 7 kilo tersebut Pemdes dan BPD sepakati untuk menjualnya, dan uangnya kami sumbangkan ke masjid, tapi nilai jualnya sudah lupa,” cetusnya.(*)









Komentar