Malutterkini.id — Gedung DPRD Halmahera Selatan berubah menjadi lautan kemarahan rakyat, Senin (3/11/2025).
Pasalnya, Ratusan warga Desa Tabangame, Kecamatan Bacan Timur Selatan, menggeruduk kantor wakil rakyat dengan menuntut perbaikan jalan lintas Tabangame ke Wayaua yang sudah rusak parah selama puluhan tahun.
Pantauan wartawan di lapangan, pemandangan di kantor dewan justru memalukan.dimana, Saat massa tiba pukul 10.38 WIT, tak satu pun anggota DPRD berada di tempat. Gedung megah yang dibiayai uang rakyat itu sunyi, sepi, dan kosong dari wakil rakyat.
Masa Aksi juga membawa spanduk bertuliskan “Jangan Tutup Mata, Kami Butuh Jalan!”, warga yang dipimpin Sonarto Husen, Ketua Karang Taruna Tabangame pun berorasi lantang di halaman gedung DPRD.
“Dua puluh empat tahun kami melewati jalan berlubang dan licin. Hasil tani gagal dikirim karena transportasi terputus. Tapi pemerintah seolah tuli dan buta!” teriak Sonarto di hadapan massa aksi.
Aksi ini merupakan bagian kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah daerah yang dinilai abai terhadap akses vital penghubung Bacan Timur Selatan.Jalan Tabangame–Wayaua menjadi urat nadi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga, namun hingga kini hanya menyisakan kubangan dan debu.
Dalam aksinya, massa menyerahkan Pernyataan sikap resmi kepada Bupati dan DPRD Halmahera Selatan yang berisi tiga tuntutan keras:
- Segera menetapkan perbaikan jalan Tabangame–Wayaua sebagai program prioritas strategis tahun anggaran 2026, dengan alokasi anggaran yang jelas dan pelaksanaan yang terukur.
- DPRD Halsel wajib mengawasi proses penganggaran agar janji pembangunan jalan tidak lagi menjadi omong kosong politik.
- Menetapkan jalan Tabangame–Wayaua sebagai jalur tanggap darurat, mengingat sudah banyak korban akibat kondisi jalan yang membahayakan.
Warga menilai, selama ini pemerintah dan DPRD hanya lihai berjanji, tapi abai terhadap penderitaan rakyat. Mereka menuntut agar para wakil rakyat turun langsung melihat realitas di lapangan, bukan hanya berdebat di ruang ber-AC.
“Kalau dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata dari Dinas PUPR atau DPRD, kami akan blokir jalan utama! Kami sudah muak dengan janji kosong!” ancam Sonarto, disambut sorakan keras ratusan warga.
Kemarahan warga semakin memuncak karena tak kunjung muncul satu pun anggota dewan. Massa pun akhirnya masuk dan menduduki ruang rapat utama DPRD untuk menunggu kehadiran para wakil rakyat yang dinilai menghilang di saat genting.
Hanya Muhammad Robbo, Kabag bagian fasilitas DPRD Halsel, yang terlihat di lokasi.
“Dari pagi belum ada anggota DPRD datang ke kantor,” ucapnya singkat, membuat massa makin geram.
Sekitar pukul 11.20 WIT, tiga legislator akhirnya datang: Iksan Basra (Wakil Ketua Komisi II, Partai Gerindra), Safri Talib (Ketua Komisi III), dan Masdar Mansur (Wakil Ketua Komisi III). Kedatangan mereka disambut dingin oleh massa yang sudah menunggu berjam-jam.
Dialog pun digelar secara kondusif, namun warga menegaskan tidak akan berhenti sebelum janji pembangunan jalan benar-benar diwujudkan. (*)









Komentar