Palestina, Kesehatan Mental dan Gundik

Opini108 Dilihat

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penerasi Jogja Sumatera)

Palestina sebagai kiblat moralitas sedang dan terus-terus terdapat gejolak di sana dan disaksikan oleh setiap pasang mata dan didengar oleh telinga-telinga siapa saja di dunia, mempengaruhi standarisasi kebaikan dan keburukan perilaku hidup manusia di dalamnya. Moralitas, mentalitas dan spiritualitas manusia seluruh dunia terpengaruh secara signifikan. Religiusitas adalah kuncinya.

Nyata sebagai kiblat moralitas terlihat dalam sikap mereka sehari-hari termasuk memperlakukan tamu/pendatang. Terkait Yahudi Azkanazi misalnya, awal datang membawa persoalan dari berbagai belahan dunia utamanya Eropa ke Palestina dengan menjual rasa belas kasih. Bukan melihat latar belakang karakter (tipikal) kaum Yahudi sepanjang zaman serta sepakterjang kaum tersebut selama menumpang di tanah Eropa, rasa iba bukan menjadi harga. Bagi mereka memperlakukan siapa saja yang datang adalah mutlak dengan memuliakannya meski ternyata Yahudi yang berwatak keras kepala tersebut tidak kunjung berubah. Bahkan bisa disaksikan, bangsa Palestina sampai urung-uringan berkorban harta, keluarga bahkan jiwa. Suatu sikap yang tidak didapat di manapun dan kapanpun semenjak peradaban manusia terbangun. Namun di luar itu semua, ada saja yang mencari jalan di luar itu semua dan secara sengaja terdapat juga manusia yang meng”adakan”nya. Artinya, moralitas yang sesungguhnya terkiblat atau terpusat ke arah Palestina, terdapat alternatif selainnya. Baik buruk perbuatan dengan cerminan cara hidup yang dicontoh secara berkelanjutan secara paripurna oleh suatu bangsa, diakomodir sedemikian rupa oleh kelompok lainnya.

Spiritualitas alternatif ini meski dituding dan jelas menyimpang, setidaknya dari jalur kunci tersebut di atas yaitu religiusitas, mencoba menjadi “agen” lain dari suatu perbuatan baik dan buruk (moralitas). Oleh disebut Gundik atau sosok spiritualitas yang tidak identik dengan religiusitas bahkan menyimpang. Karenanya, peran Gundik menjadi sentral.

Meski Gundik tidak hadir semata karena gejolak di Palestina, sebab kehadirannya senantiasa mengiringi perjalanan suatu bangsa. Namun persoalan yang terjadi di tanah para nabi tersebut memperjelas eksistensi dan fungsi Gundik dalam mengakomodir spiritualitas masyarakat.

Tidak semata kepentingan politik, sosial serta ekonomi yang diakomodir, namun spiritualitas bahkan menjelma keyakinan tersistematis atau agama. Sebab Gundik identik dengan keduniaan, maka tidak heran bersifat menyimpang dari kebenaran. Coraknya relatif sama, mengakomodir namun sesungguhnya bernaung di bawah teguhnya kebenaran. Meski mereka (pengulikut) tidak tahu/yakin pasti muara usaha mereka dalam berjibaku dalam urusan dunia, namun mereka akan bersikeras terhadap usaha mereka dengan mencari pembenaran demi pembenaran sikap penyimpangan yang ditempuh.
Secara logika keilmuan, masyarakat religius tidak tergoyahkan secara signifikan dalam mengidentifikasi mentalitas sebab teguh dalam keyakinan agama. Sebaliknya, masyarakat yang jauh dari religiusitas akan condong kepada spiritualitas alternatif ala Gundik bahkan terdapat usaha menyerang spiritualitas khas religiusitas atau agama.
Logika masyarakat penganut spiritualitas ala Gundik ini sebenarnya juga tidak jauh berbeda coraknya dengan bangsa yang bergejolak dengan Palestina, yaitu mereka yang mengklaim diri Yahudi. Sebab religiusitas di Palestina telah terbentuk secara turun-temurun berdasar kesalehan khas kenabian sedemikian rupa, dari kelompok Yahudi memiliki sikap kepada spiritualitas yang disimpangkan melalui praktik sihir. Perilaku menyimpang dari ketentuan agama inilah menjadi sumber kerusakan khususnya mentalitas umat manusia.

Gundik identik dengan praktik mistik di luar ketentuan agama, meski dipandang bermanfaat sesungguhnya justru membawa mudhorat dan tidak membawa manfaat sama sekali. Praktik sihir sesungguhnya hanya membawa kerusakan kepada pelakunya, berikutnya kepada orang-orang jauh dari agama yang terpengaruh.
Maka Gundik atau sosok spiritual alternatif bertanggungjawab atas kerusakan mentalitas masyarakat. Sebab jika pemahaman ini disamarkan, maka bukan tidak mungkin, dalam tingkatan tertentu suatu bangsa yang bertumpu pada spiritualitas ala Gundik akan menjadi sebagaimana bangsa Israel, yang tidak hanya menduduki tanah bangsa yang telah berjasa dalam menerima kehadiran saat mereka dalam pengusiran di mana-mana, namun juga membantai dan melakukan genosida terhadap mereka.

Di Balik Enigmatik Persoalan Palestina
Paragraf ini mari dimulai dari pangkal persoalan manusia yaitu dosa. Pencarian penghidupan maupun kehidupan setelah hidupnya semisal keturunanan dan kelanjutannya. Maka semua jenis persoalan dikenal dalam berbagai segi kehidupan manusia saat ini seperti ekonomi, sosial politik adalah dosa dan kebaikan seputarnya hanyalah dari Allah, Tuhan semesta alam.

Persoalan Palestina menjelma enigmatik bagi seluruh dunia. Sedemikian rumit, berbagai kenyataan seakan menundukkan pemikiran berikutnya keyakinan runtuh bersamaan. Logika pada kedekatan negara Arab, baik agama, budaya sampai sejarah yang terbentuk sepanjang peradaban manusia ternyata bukan paten. Kesamaan agama dalam bingkai persaudaraan seolah menghilang entah kenapa dan mengapa dalam drama diplomasi sehingga warga Gaza dalam genosida.

Membelokkan Isu? Bahwa persoalan di sana adalah politik, ekonomi sosial adalah parsial, maka darinya Cukup! Bahwa berbagai faktor kehidupan tersebut mempengaruhi, dalam persepsi manusia tentulah iya, namun bukan merupakan sumber persoalannya.

Perang Iran-Israel? Jelas terjadi sebagai konsekunsi dari negara berdaulat yang diinjak-injak harga dirinya. “Ya”, ingat kasus pembunuhan Ismail Haniyah pejuang Palestina yang dihabisi secara keji oleh Israel, saat beliau mengunjungi undangan pelantikan presiden Iran, yang sebelumnya tewas dalam kecelakaan pesawat yang juga masig misteri. Artinya sosok tersebut terbunuh sebagai tamu undangan kenegaraan.

Maka fokus pada perilaku bangsa Palestina yang teguh dalam kebenaran dan senantiasa bersabar dan terus berlapang dada untuk diteladani bersama. Kedekatan mereka dan sikap berpegang teguh dalam kebenaran dan mendahulukan pandangan Tuhan sebagai sumber dan segala tujuan hidup mereka. Menetapi iman dan agama sesuai tuntunan dan terus berjuang di jalanNya tidak dengan mengambil sikap spritualitas alternatif yang hanya membawa kepada kerusakan tidak hanya mental namun juga hidup secara keseluruhan; ala Gundik!**

Komentar