KNPI Halsel Terancam Jadi Komite Nasional Ibu-Ibu Indonesia

Opini231 Dilihat

Oleh: Fikri J Ucok, Wartawan Malutterkini.id

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Halmahera Selatan tengah menghadapi dilema Serius. Kontestasi calon ketua memanas, bukan karena persaingan sehat antar Pemuda, justru karena munculnya figur berusia 41 tahun yang ikut meramaikan bursa Pemilihan.

Kehadiran sosok yang telah melewati batas usia kepemudaan ini memunculkan pertanyaan publik: untuk siapa sebenarnya KNPI?

Aturan jelas menegaskan bahwa AD/ART KNPI menetapkan batas usia dan kriteria kepemudaan. Pelanggaran terhadap aturan ini bukan sekadar persoalan administratif, tetapi sinyal bahaya bagi identitas organisasi.

Fenomena ini menjadi bahan sindiran pedas dikalangan public, KNPI Halsel bisa berubah menjadi “Komite Nasional Ibu-Ibu Indonesia” jika prinsip kepemudaan terus diabaikan.

Ironisnya, organisasi yang seharusnya menjadi laboratorium kepemimpinan pemuda justru berpotensi digoyang oleh kepentingan individu. Saat generasi muda berjuang mencari ruang berkreasi, peluang itu justru direbut oleh mereka yang seharusnya telah melewati batas usia kepemudaan.

KNPI bukan soal siapa yang paling populer, paling berpengalaman, atau paling vokal di media sosial. KNPI adalah soal regenerasi: menyiapkan pemuda untuk mengambil peran nyata dalam pembangunan daerah.

Jika aturan organisasi diabaikan, regenerasi berhenti, kreativitas tersumbat, dan tujuan organisasi menjadi retorika semata.

Masyarakat perlu mengawasi. Pengurus KNPI Halsel harus tegas menegakkan aturan, bukan untuk menyakiti siapa pun, tetapi demi menjaga integritas, visi, dan masa depan pemuda.

Jika tidak, kritik pedas dan sindiran seperti “Komite Nasional Ibu-Ibu Indonesia” bukan sekadar lelucon, melainkan cerminan kegagalan mempertahankan identitas dan kredibilitas organisasi.

KNPI Halsel dihadapkan pada pilihan krusial, menjadi wadah pemuda yang serius atau sekadar arena tarik-menarik kepentingan pribadi. Pilihan ini akan menentukan wajah kepemudaan Halmahera Selatan untuk satu dekade ke depan. (*)

Komentar