Malutterkini.id– Sungai Ake Jira dan Ake Sagea di teluk weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara tercemar logam berat.
Temuan ini berdasarkan hasil penelitian Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako pada bulan Juli 2024.
Dalam penelitian itu, kedua lembaga baik itu Nexus3 dan Universitas Tadulako menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data primer secara komprehensif melalui pengujian dan analisis sampel lingkungan dan biologi.
Sampel tersebut mencakup sedimen, air, ikan, dan darah dari penduduk di sekitar wilayah Weda Bay dan area tambang nikel.
Pada pengujian sampel, ditemukan bahwa kualitas air di wilayah Ake Jira telah melampaui ambang batas standar air sungai Kelas 1, sehingga tidak layak digunakan untuk air minum dan
keperluan air bersih oleh masyarakat.
Hal ini jika bandingkan dengan data dasar (baseline) tahun 2008 semakin memperkuat keluhan masyarakat mengenai menurunnya fungsi sungai
sebagai sumber air minum dan air bersih.
Uji sedimen terbaru menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat dalam sedimen sungai serupa dengan data dasar yang dikumpulkan pada tahun 2007. Hal ini mengindikasikan bahwa logam berat kemungkinan tidak terakumulasi secara signifikan dalam sedimen
tersebut.
Dalam laporan berkelanjutan aktivitas Industri Nikel di teluk weda Senin 28 Mei 2025, Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah arus sungai yang membawa sedimen dari hulu ke muara sungai, di mana sedimen tersebut akhirnya terdeposit di laut.
Berdasarkan kesaksian para nelayan dan pejabat pemerintah mengenai sedimentasi di muara sungai, sangat penting dilakukan pengujian terhadap akumulasi logam berat di area tersebut untuk menilai kondisi kualitas lingkungan saat ini.
Seluruh sampel ikan yang dikumpulkan dari Weda Bay mengandung merkuri dan arsen dalam berbagai konsentrasi. Berdasarkan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, empat sampel ikan melebihi batas maksimum kontaminasi arsen total sebesar 2 mg/kg, sementara tujuh sampel lainnya mengandung kadar arsen dalam kisaran 1–2 mg/kg.
Bahkan, tidak ada sampel ikan yang melebihi batas maksimum kontaminasi
merkuri, termasuk ikan barracuda yang diklasifikasikan sebagai ikan predator.
Disampingi itu, Pemeriksaan konsentrasi logam berat dalam darah menunjukkan bahwa 22 individu (47%) memiliki kadar merkuri yang melebihi batas aman sebesar 9 µg/L. Sebagai perbandingan, 15 individu (32%) memiliki kadar arsen yang melebihi batas aman sebesar 12 µg/L dari total 46 responden masyarakat yang berpartisipasi dalam studi ini.
Kadar merkuri dan arsen dalam darah cenderung lebih tinggi pada warga yang bukan pekerja di kawasan industri
IWIP.
Pemantauan rutin terhadap kualitas air, sedimen, dan hasil tangkapan laut di Teluk Weda sangat penting untuk melacak kontaminasi logam berat, khususnya arsen, merkuri, nikel, dan kromium.Pemantauan ini juga harus mencakup wilayah muara sungai dan perairan sekitar kawasan industri guna memastikan penilaian menyeluruh terhadap sumber dan dampak pencemaran.
Pada pemantauan tersebut terungkap data lingkungan dan kesehatan secara transparan kepada publik sangat
penting untuk pengambilan keputusan yang berdasarkan informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Batas emisi logam berat dari aktivitas pertambangan harus diperketat dan ditegakkan dengan ketat untuk mengurangi pencemaran. Setiap pelanggaran harus dikenakan sanksi
tegas guna menjamin kepatuhan.
Tak hanya itu, Upaya penegakan hukum juga harus diperkuat dalam mengatur limbah industri, emisi, dan pencemaran dari industri pertambangan serta pengolahan nikel, demi perlindungan
lingkungan dan akuntabilitas korporasi.
Olehnya itu, Pemerintah daerah dan pelaku industri perlu menyediakan fasilitas pemantauan kualitas udara yang menyajikan informasi secara waktu nyata (real-time) dan dapat diakses oleh
masyarakat.
Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan rutin, termasuk tes darah untuk mendeteksi logam berat, harus
disediakan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri guna memantau dan menangani potensi risiko kesehatan.
Penguatan kapasitas fasilitas kesehatan di tingkat kabupaten sangat penting agar mampu menangani dampak jangka panjang dari paparan logam berat secara efektif, dengan menyediakan diagnosis, pengobatan, dan layanan pencegahan yang tepat.
Kemudian, Edukasi publik mengenai bahaya mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi logam berat, terutama dari spesies predator dengan kadar merkuri tinggi, sangat penting untuk
mengurangi risiko kesehatan.
Kondisi terssbut perlu adanya perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil dan bayi, dengan
mendorong pilihan makanan yang lebih aman guna meminimalkan paparan logam berat dan melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Penelitian ini sangat penting untuk menyoroti kekhawatiran serius terkait pencemaran logam berat, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan industri pertambangan dan pengolahan.
Pencemaran semacam ini merupakan ancaman besar tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat setempat.
Terdapat Dua konsekuensi utama dari pencemaran ini adalah menurunnya
kualitas lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.
Ketiadaan pemantauan
rutin semakin memperburuk permasalahan ini. Paparan logam berat dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit tidak menular, yang sering kali menjadi ancaman tersembunyi,
muncul belakangan dalam kehidupan, menurunkan kualitas hidup, dan membahayakan generasi mendatang.(*)









Komentar